September 24, 2018

Wanna Push the Button ?

"...Quiet is peace. Tranquility. Quiet is turning down the volume knob on life. Silence is pushing the off button. Shutting it down. All of it..."
- Khaled Hosseini -




Sebenarnya, saya punya tumpukan tugas kuliah yang harus diselesaikan dalam dua minggu, sekian paper, sekian presentasi (ciee mahasiswa). Namun, kebiasaan jelek bernama procrastination muncul dan bertahan dengan kece sepanjang akhir minggu pertama menuju deadline. Apa yang saya kerjakan ? Yah, read my fav books. Kembali ke bukunya om King, dengan judul GWENDY'S BUTTON BOX, yang dibuat duet bareng Richard Chizmar.

Apa yang akan anda lakukan kalau punya kekuasaan menghancurkan suatu tempat dengan hanya menekan satu tombol saja ?

September 20, 2018

Jam Berisik

"...Unexplained noises are best left unexplained..."
- John Bellairs -



Paska menjalani rutinitas baru sebagai mahasiswi di ibukota, saya cukup ngos-ngosan dengan densitas dari materi kuliah plus tugas-tugasnya. Untungnya, jadwal kuliah ini tidak penuh dalam satu bulan. Akhirnya saya rehat sejenak sambil mikir mau bikin pe-er namun hasrat menunda begitu besar, ditambah kedatangan senior saya yang mentraktir nonton dan makan-makan enak di mall setempat. Anak kosan sobat misQin yang masih pengangguran ini tentunya tidak menolak.

Maka pergilah kami menonton sebuah pilem fantasi berjudul A HOUSE WITH A CLOCK IN ITS WALLS. Pilem yang warna-warni magis ini berlatar di suatu kota kecil bernama New Zebedee tahun 1955, dimana Lewis Barnavelt, si bocah cowok unyu yatim piatu harus tinggal bersama pamannya, Jonathan Barnavelt, nan jomblo namun eksentrik.

September 2, 2018

Muridnya Sableng, Gurunya Gendeng

"... satu hal yang harus kau ingat, manusia-manusia jahat itu mudah sekali berserikat dalam kejahatan...sebaliknya, manusia yang katanya orang baik-baik kerap kali tidak saling akur...itu sebabnya kejahatan terlihat selangkah lebih cepat dari kebaikan..."
- Kiai Gede Tapa Pamungkas -



Melanjutkan sesi nonton weekend bersama Incil (yang untungnya nggak ada panggilan konsul untuk visum), saya akhirnya menonton pilem laga kolosal legendaris yang nostalgik di bioskop terdekat. WIRO SABLENG adalah proyek terkini pilem laga Indonesia yang mengusung kisah Wiro Sableng, tontonan favorit kita dulu di televisi (jangan tanya televisi sekarang apa, saya nonton Spongebob saja..lalu disensor KPI di tempat-tempat yang ridiculously inappropriate). Bagi kalangan tua macam saya (ciee tua), Wiro Sableng adalah tontonan wajib sama halnya Si Doel Anak Sekolahan. Begitu tau akan diangkat ke layar lebar, saya cukup excited. Jarang loh model yang malas nonton pilem lokal macam saya ni bisa menggebu-gebu.

Kehadiran logo 20th Century Fox yang muncul membuka pilem menghadirkan suasana nonton pilem impor. Dan kita memang tau, bahwa Lifelike Pictures yang memproduksi pilem ini bekerjasama dengan 20th Century Fox untuk mewujudkan semesta laga si Wiro ke layar lebar, sekalian juga promo dan rilisnya secara internasional (ingat teaser DEADPOOL 2 yang memunculkan Wiro dan Anggini nyasar ke semesta X-Men --- fyi Deadpool itu masuk X-Men yaaaa).

September 1, 2018

What Parents Do

"...What it's like to be a parent: It's one of the hardest things you'll ever do but in exchange it teaches you the meaning of unconditional love..."
- Nicholas Sparks -



God, I miss my Dad...

Beberapa hari yang lalu, si panda merekomendasikan saya sebuah film berjudul SEARCHING yang sedang tayang di bioskop. Katanya sinematografinya apik. Lantas saya coba deh ya lihat-lihat ripiu, ternyata pilem ini diapresiasi dengan baik oleh banyak kalangan. Nah, akhirnya saya ditemani Incil yang tidak sibuk autopsi, untuk menghabiskan sabtu sore di bioskop.

SEARCHING tidak hanya menarik secara sinematografi. Plotnya sederhana tapi kena di hati. Sebuah keluarga Asia yang berdomisili di Amerika mengalami musibah yang cukup pelik. David Kim, tokoh ayah, mesti berkutat mencari keberadaan sang putri, Margot Kim yang hilang setelah meninggalkan dua missed call dan satu video call tak terjawab di larut malam saat David tertidur.

August 30, 2018

Tersesat

"...not all who wander are lost..."
- JRR Tolkien -



Saya sangat takut tersesat, malangnya saya adalah orang yang lemot dalam hal menghapal jalan sederhana atau peta atau petunjuk arah. Memang senaas itu. Tersesat adalah bentuk musibah yang sedapat mungkin saya hindari. Meskipun mau tidak mau saya sering tersesat lalu panik.

Beberapa bulan lalu, Akong Shandy, tetua geng admin mengirimkan kepada saya beberapa bukunya om Stephen King yang sudah cukup langka. Salah satunya adalah THE GIRL WHO LOVED TOM GORDON. Buku setebal 300an halaman ini akhirnya saya bawa merantau ke ibukota dan berhasil saya selesaikan berhari-hari yang lalu.

August 29, 2018

Coretan Kapur Tulis

"...The most dangerous kind of man is not the one who spent his youth shoving others around. That kind of man gets lazy, and is often too content with his life to be truly dangerous. The man who spent his youth being shoved around, however … When that man gets a little power and authority, he often uses it to become a tyrant on par with the worst warlords in history..."
- Professor Fitch -



Sebelum memulai masa pendidikan, saya menghabiskan waktu berharga dengan cara berleha-leha sambil membaca. Hobi saya yang biasa. Nah, waktu berkunjung ke rumah papaGentur, bos geng admin tempo hari, saya berhasil meminjam sebuah buku milik beliau berjudul THE RITHMATIST, bikinan tak lain tak bukan dari Brandon Sanderson nan nyebelin. Buku-bukunya Brandon Sanderson masuk ke dalam wishlist selain penulis lain. Kita sudah tau, beliau adalah jenis penulis produktif yang berurusan dengan multi-genre dari fantasi. Mulai dari high fantasy sampai jenis yang menyebalkan bikin pingin bakar rumah (ALCATRAZ AND THE EVIL LIBRARIANS), dengan penjelasan yang cukup mumpuni. THE RITHMATIST merambah subgenre lain dari fantasi, yang sepertinya jarang saya baca, yakni steampunk/gearpunk.

Genre ini berpusat kepada keterlibatan teknologi mesin uap yang berkelindan dengan fantasi, meskipun dalam THE RITHMATIST belum terlalu terasa. Genre serupa bisa ditemukan di THE HUNGRY CITY CHRONICLES nya Philip Reeve (belom punya dan belom niat membaca). Yang jelas, Sanderson menggunakan semesta alternatif untuk penggambaran setting di THE RITHMATIST. Semesta alternatif yang digunakan adalah Benua Amerika versi The United Isles, bukan United States.

August 24, 2018

To All The Places I've Loved Before (But I Still Love Them Tho)

"...dan ingatlah untukmu yang paling terpenting...kamu harus bahagia..."
- Yura Yunita -



Mencomot dan mengganti seenaknya dari film terbaru keluaran yang tayang di Netflix yang mana telah cukup sukses membuat banyak gadis-gadis dan emak-emak (nah lho) yang saya kenal jadi riuh fangirling-an, maka curhatan ini ditulis. Sebenarnya saya juga nonton pilem itu kemarin. TO ALL THE BOYS I'VE LOVED BEFORE adalah pilem adaptasi dari novel berjudul sama yang mengisahkan masalah percintaan anak muda. Out of my comfort zone of reading and watching, tapi tak apa sesekali melipir. Lumayan untuk nyadar kalau sudah tua dan di dunia nyata, saya mungkin di umur 16 tahun sibuk dengan ambisi sendiri, naksir orang tapi ndak pernah bilang, dan lebih memilih berurusan dengan hingar bingar akademik. Tidak mengalami kehidupan manis ala Lara Jean dan cowoknya, Peter Kavinsky.

Sesuai judul curhatan, saya ceritanya sedang kembali menjadi pengangguran setelah sekitar 6 tahun bekerja pasca tamat kuliah. Well, changes just happen. Di dekade tiga kehidupan, saya memutuskan untuk kembali belajar formal untuk memenuhi tuntutan passion yang akhirnya saya temukan setelah menggelandang kesana kemari. Lahir di Maninjau ( cek gmaps sanah), TK ampe tamat SMA di Jambi, kuliah di Padang, magang di Suliki-Payakumbuh, kerja nguli di Duri, lalu terakhir balik ke Padang lagi untuk menjajal jadi pengajar sambil masih nggrecokin pasien biar nggak lupa dan tetap punya rasa (elah). Dan sekarang saat ngetik tulisan ini saya lagi di Bandung, menghabiskan beberapa jam yang tersisa sebelum naik travel ke Jakarta. Yep, dua tahun ke depan saya akan guling-guling di ibukota, jadi anak sekolah kembali.

The Long Conversation With You

  “The worst part of holding the memories is not the pain. It's the loneliness of it..." - Lois Lowry Hi Mas, it's been a while...