August 3, 2017

Mengapa Tuhan (Masih) Amat Sabar ?

"...humans are the worst parasitic creatures that live on earth..."

Pusying pala beruang

Senada dengan level emosi saya yang bisa diibaratkan seperti sebuah tabung gas elpiji tiga kilo tanpa regulator SNI, maka entah kenapa saya membuat curhatan beginian, di luar nyinyiran perbukuan atau perpileman yang biasa. Namun, mengutip kata-kata trendi dari akun gosip di instagram yang sering saya stalking : ojo nyinyir, ojo baper. Nah itulah respon yang saya harapkan dari anda sekalian yang kebetulan membaca tulisan ini.
So, what's happen ?
 
Menilik kepada beberapa buku yang telah saya baca (ciyee, rajin baca buku nih yee...), permasalahan dari 6 milyar manusia zaman kini (jumlahnya mungkin lebih), secara umum adalah overpopulasi. Meningkatnya angka harapan hidup, kemajuan teknologi medis, dan segala kemudahan membuat kita jadi makin berjaya. Jumlah manusia hanya dikalahkan oleh jumlah serangga, sungguh suatu prestasi.
Kata orang bijak, momen penting dalam kehidupan manusia itu adalah ketika dia menemukan tujuan hidupnya di dunia. Jadi, sudah bertujuankah hidup enam milyar sekian-sekian manusia di dunia ? Selain makan minum mengeluh dan nyampah ?

Sebagai orang yang percaya Tuhan, beberapa hari ini setelah melihat beraneka berita penting ga penting yang wara wiri di sosmed atau di tipi, saya mempertanyakan suatu hal : kenapa Tuhan ini sabar banget ya ? Ya kalau merujuk ke masalah Ketuhanan dimana Dia adalah Sang Maha Segalanya, seharusnya saya tidak mempertanyakan itu. Namun sebagai hamba yang receh, pertanyaan ini terus mengemuka. Apa yang membuat Tuhan bisa menahan diri-Nya sedemikian rupa untuk tidak melibas saja makhluk yang bernama manusia ini.

Saya bukan ahli filsafat, bukan pemuka agama. Sebagai organisme multiseluler berkecerdasan rata-rata, apa yang saya lihat belakangan membuat saya miris. Contoh saja, ogah kecelakaan tapi ogah pakai helm kalau mengendarai kendaraan roda dua. Ogah anaknya sakit, tapi giliran dikasih imunisasi gratis malah ogah juga. Kadang cerita di ruang praktek juga bikin pengen lempar sendal, batuk ga sembuh, eh masih ngerokok juga. Dan ketika penyakit hadir, langsung pakai alibi takdir. Sudah takdirnya, gitu. Takdir = keputusan Tuhan. Berarti nyalahin Tuhan gitu ya. Lalu ngapain menuh-menuhin dunia ?

Sebagai manusia juga, yang tentunya masih bikin jengkel Tuhan, saya tidak punya keberanian untuk membela-Nya dengan kontinu. Hidup aman dan nyaman sepertinya sudah cukup. Non-ambisi, hanya bagai kerlip atom yang bertahan sebentar di lautan jagad raya. Cuma di sosial medialah bisa nyampah seenaknya. Dan jelas, jaman kini sudah menjadi kebutuhan utama selain sandang pangan. Semua berubah ketika internet menyerang.

Dalam beberapa halaman awal buku A SHORT HISTORY OF DISEASES karya Sean Martin (yang belum kelar saya baca), disebutkan bahwa manusia berhasil bertahan pada sekian kali evolusi. Melawan perubahan alam, meskipun awalnya kita hanya berupa helaian benang mikro bernama deoxyribonucleic acid. Rombongan keturunan Adam dan Hawa ini berjuang, bertahan, belajar, dan berkembang biak. Melalui serangkaian perubahan zaman, baik geologik maupun sosial. Sekian kali wabah mematikan, perang besar, bahkan murka alam. Ngerinya, kita masih bertahan.



Pertanyaannya : untuk apa ?
Dalam perenungan ngalor ngidul saya di sela-sela menahan emosi kemacetan dan penyalipan supir angkot, Tuhan yang Maha Sabar itu pasti punya Maha Rencana. Namun, kita tentunya nggak bisa seenaknya dong menyalahkan Dia kalau terjadi sesuatu. Ada hal-hal yang mesti kita usahakan. Mesti diikhtiarkan. Soalnya, kalau Dia mau, tinggal suruh malaikat buat nulis nama semuanya satu-satu di Death Note. Ribet bener ini makhluk, mending tanaman, bisa fotosintesis dan menghasilkan makanan sendiri. Nggak ngerusak dan banyak maunya.

Sejalan dengan lepasnya bongkahan es seluas pulau Bali di Antartika tempo hari, sepertinya sudah saatnya kita belajar mencari fungsi kita dalam hidup yang singkat ini. Memang, katanya Tuhan tidak perlu dibela, tapi setidaknya, adalah sedikit gunanya kita selain hanya kumpulan rantai atom karbon, oksigen, nitrogen, dan senyawa organik lain yang memenuhi bumi tua ini. Bukan cuma sekedar buat like and share biar masuk surga, menyeret berita hoax kemana-mana, menyerahkan keputusan pada yang bukan ahlinya, atau malah sibuk komen dan stress melihat tetangga beli sofa baru. Kita lebih dari pada itu. Sabarnya Dia yang tanpa batas, bukan jadi alasan kita untuk terus tidak berguna (ngomong sambil ngaca).

Well, I'm not sure about my insanity in these words.
Kegalauan personal tiada akhir membuat saya menulis ini. Ada nilai-nilai yang membuat saya sedikit tercenung dalam beraneka novel yang saya baca. Bila wabah kembali, bila Tuhan bosan, bila Bumi eneg, maka akan bagaimanakah kita ? 

Sejatinya otak yang kompleks sebagai anugerah kece dari Sang Pencipta ada baiknya mulai kembali dipakai. Selain itu, sisa nurani yang mungkin menjerit, ada faedahnya bila mulai didengarkan. Sesederhana tidak buang sampah sembarangan, sesimpel bilang tolong dan terima kasih. Siapa tau ada sedikit ketenangan yang bisa diperoleh, di antara semua keburuksangkaan, kehausan pengakuan, ombang-ambing sosial politik, dan segala remeh temeh kefanaan yang membuat kita lupa. Bila surga dan neraka tidak pernah ada, maka akankah kita bersikap selayaknya manusia ?

Sekian, ojo nyinyir, ojo baper. Saya masih harus banyak membaca...(lalu melipir cari Paman Gober).

P.S : Jangan lupa imunisasi, teliti sebelum membeli, hati-hati isi dan faedah sebelum berbagi.

“Life is a disease: sexually transmitted, and invariably fatal.”
- Neil Gaiman -

No comments:

Post a Comment

The Long Conversation With You

  “The worst part of holding the memories is not the pain. It's the loneliness of it..." - Lois Lowry Hi Mas, it's been a while...