December 24, 2017

You'll Float Too

“...What you fear most of all is - fear..."
- Prof Remus John Lupin -



Sebagai makhluk yang amat penakut, saya secara ofensif menolak semua anjuran dan ajakan teman-teman untuk menonton sebuah film adaptasi dari bukunya om Stephen King, berjudul IT, September lalu. Bukan apa-apa, liat trailernya aja udah bergidik. Namun pertahanan saya goyah karena suatu adegan dalam serial favorit saya secara implisit seolah menyinggung Pennywise, wujud badut dari makhluk bernama IT ini. Saya sudah tau kalau bukunya luarbiasa tebal, namun waktu ke ibukota tempo hari saya memutuskan untuk khilaf membelinya. Buku setebal 1376 halaman ini akhirnya bisa saya selesaikan beberapa jam lalu. Dan saya sudah menonton pilemnya sebelum membaca (ternyata pilemnya masih Chapter One, ga heran sih).

Sampai di sini bagi yang nggak mau kena spoiler, silakan menyingkir. Curhatan berikut mengandung perbandingan antara buku dan pilem. Jadi kalau nggak mau teracuni, huss, get out of here !

December 15, 2017

Coco : as Sweet as Chocolate, as Refreshing as Coconut

"...Remember me, though I have to say goodbye
Remember me, don't let it make you cry
For even if I'm far away I hold you in my heart
I sing a secret song to you each night we are apart
Remember me, though I have to travel far
Remember me, each time you hear a sad guitar
Know that I'm with you the only way that I can be
Until you're in my arms again
Remember me..."
- Don Hector -



Sebelum saya nonton STARWARS : THE LAST JEDI tempo hari, saya dan geng kalap bersama memutuskan menonton sebuah pilem animasi dari Disney dan PIXAR, berjudul COCO. Pilem ini sebenarnya udah tayang sejak kapan. Tapi karena saya sok sibuk jadi saya belum sempat nonton. Nah untunglah saya bisa menonton pilem keren ini, meskipun harus diingatkan oleh mas Ulil harus membawa stok tisu.

Tidak perlu meragukan kualitas animasi buatan Disney. Warna-warninya. 'Rasa'nya. Dan jelas lagu-lagunya yang membuat hati hangat. COCO sukses sekali. Tidak mengusung soal putri-putrian, namun menyusung tema keluarga. Jelas ini bakal nonjok.

December 14, 2017

Jedi or Not : Still Another Family Problems

"...I only know one truth: It's time for the Jedi... to end..."
- Luke Skywalker -



Konon katanya, rombongan pecinta pelem scifi di dunia ini terbagi menjadi kubu STAR WARS dan kubu STAR TREK. Nah, saya sebelumnya masuk ke dalam populasi yang tidak menonton keduanya. Namun, sekitar dua tahun lalu, saya memutuskan mencoba memulai menonton awal saga epik STAR WARS, dimulai dari episode IV : A NEW HOPE yang muncul tahun 1977. Selanjutnya saya marathon, dan resmi menunjuk diri sebagai Padawan baru bersama beberapa nerds  lainnya.

Bagi anda sekalian yang belum menonton pilem anyar terkini dari saga STAR WARS berjudul THE LAST JEDI, harap menyingkir dan tidak melanjutkan membaca nyinyiran ini. Bagi yang butuh hiburan dan tidak keberatan dengan sedikit spoiler, silakan lanjut.

December 10, 2017

Pantulan Lukisan

“...It’s best to be ruthless with the past. It ain’t the blows we’re dealt that matter, but the ones we survive...”

The Rose Madder, by Derek

Dalam menjalani hobi membaca dan menimbun, kita harus berpegangan pada prinsip bahwa : buku yang memilihmu. Nah pilihan ini membawa saya menjalani semacam 'petaka' yang terjadi dalam dua tahun belakangan setelah terkontaminasi buku-buku bacaan buatan penulis anyar yang selalu hits, tak lain tak bukan, oom Stephen King. Sepertinya blog ini sudah terlalu banyak membahas curhatan mengenai berbagai karya beliau. Ya sudahlah. Hal ini terjadi lagi ketika perburuan saya saat liburan lalu ke sentra buku bekas berhasil mempertemukan saya dengan buku terjemahan karya beliau yang sejatinya terbit tahun 2007 di Indonesia, berjudul ROSE MADDER : WANITA DALAM LUKISAN.

Bagi para pembaca novel fantasi ataupun supranatural maupun horor tentunya tidak asing dengan ide bahwa lukisan-lukisan tertentu bisa memiliki kemampuan magis berbahaya. Kita tentu ingat kisah legendaris Dorian Gray dalam buku yang ditulis mendiang Oscar Wilde. Buku yang saya belum baca dan miliki, hanya berbekal pengetahuan dari teman-teman pembaca lainnya. ROSE MADDER mengisahkan petualangan berbahaya seorang wanita dan kaitannya dengan sebuah lukisan antik yang dibelinya ketika melarikan diri dari cengkeraman kegilaan sang suami.

December 7, 2017

Konklusi Perbintangan

“...Do not underestimate your enemies, Your Majesty...”
- Raffaele Laurent Bessette -
Photo by jjackman - deviantart
Setelah sempat reading slump dan liburan sekian lama, akhirnya saya berhasil menuntaskan satu buku yang cukup kelam dan depresif dengan judul THE MIDNIGHT STAR. Buku ini adalah pamungkas trilogi THE YOUNG ELITES karya penulis young adult hits, Marie Lu. Buku sebelumnya, THE ROSE SOCIETY memang berbeda dalam artian perjalanan kehidupan anti hero sang tokoh utama - Adelina Amouteru ( sudah dicurhatkan di sini). Menyebut diri sebagai serigala putih, Adelina tampil sebagai Ratu tiran kejam yang menguasai kerajaan Kenettra. Adelina melakukan kebijakan yang mengangkat harkat dan martabat para malfetto (kaum yang terkena wabah berdarah) secara signifikan.

December 5, 2017

Pigi Kemana ?

“Reading... a vacation for the mind....”
- Dave Barry -
Setelah melakukan perjalanan jauh ke negeri orang, saya lalu pergi jalan-jalan lagi ke ibukota. Kayaknya ini udah jadi semacam agenda rutin tiap tahun yang sepertinya tidak saya rencanakan secara spesifik. Yang saya tahu, saya harus piknik. Hidup terlalu membosankan kalau cuma dipakai buat kerja dan nyinyir.

Problem mendasar adalah keramaian. Kelebihan populasi ibukota yang berbondong-bondong pergi main ke daerah lain, dalam hal ini Kota Hujan, alias Bogor, tempat si bocah, adek saya kuliah, menyebabkan saya sampai amat terlambat. Kelelahan, lapar, plus kram perut. Niat awal mau heng ot di kota ini saya batalkan. Babat makanan siap saji, kabur ke kontrakan sang mahasiswi semester 5 ini, dan tidur. Karena agenda esok hari jauh lebih meyakinkan.

December 4, 2017

Conflict Doesn't Choose Its Victims

“It is forbidden to kill; therefore all murderers are punished unless they kill in large numbers and to the sound of trumpets.”
- Voltaire - 



Saya adalah WNI yang tergolong skeptis dan agak antipati sama pilem lokal. Bukan apa-apa, saya memang nyinyir dari sononya. Biasalah, keracunan Hollywood sejak lama, bacaan juga banyak yang terjemahan. Namun kalau berkaca secara objektif, keskeptisan saya rasanya bisa cukup beralasan. Tidak banyak pilem yang bisa 'menggugah'. Saya mencatat hanya beberapa dalam benak saya. Seperti Petualangan Sherina, AADC (yang pertama yes, yang kedua no), Laskar Pelangi, dan Mengejar Matahari.

Dalam kesempatan cukup jarang, saya nonton stasiun tipi lokal, dan ternyata ada ajang Piala Citra 2017. Nah, penghargaan yang dianggap sebagai The Oscars-nya Indonesia ini hadir dengan konsep tidak bertele-tele dan mengusung pemenang sebuah judul film yang tayang bulan April 2017 lalu. Pilem yang tidak mencetak rekor berjuta-juta penonton, tidak menjadi incaran tontonan generasi jaman now, tidak meme-able, dan masih banyak yang mungkin kurang info. NIGHT BUS, sebuah film yang juga berhasil memberikan piala Citra untuk Teuku Rifnu Wikana sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik, mengalahkan rombongan nominator lain. NIGHT BUS menjadi film Indonesia terbaik 2017 versi Festival Film Indonesia.

The Long Conversation With You

  “The worst part of holding the memories is not the pain. It's the loneliness of it..." - Lois Lowry Hi Mas, it's been a while...