August 24, 2018

To All The Places I've Loved Before (But I Still Love Them Tho)

"...dan ingatlah untukmu yang paling terpenting...kamu harus bahagia..."
- Yura Yunita -



Mencomot dan mengganti seenaknya dari film terbaru keluaran yang tayang di Netflix yang mana telah cukup sukses membuat banyak gadis-gadis dan emak-emak (nah lho) yang saya kenal jadi riuh fangirling-an, maka curhatan ini ditulis. Sebenarnya saya juga nonton pilem itu kemarin. TO ALL THE BOYS I'VE LOVED BEFORE adalah pilem adaptasi dari novel berjudul sama yang mengisahkan masalah percintaan anak muda. Out of my comfort zone of reading and watching, tapi tak apa sesekali melipir. Lumayan untuk nyadar kalau sudah tua dan di dunia nyata, saya mungkin di umur 16 tahun sibuk dengan ambisi sendiri, naksir orang tapi ndak pernah bilang, dan lebih memilih berurusan dengan hingar bingar akademik. Tidak mengalami kehidupan manis ala Lara Jean dan cowoknya, Peter Kavinsky.

Sesuai judul curhatan, saya ceritanya sedang kembali menjadi pengangguran setelah sekitar 6 tahun bekerja pasca tamat kuliah. Well, changes just happen. Di dekade tiga kehidupan, saya memutuskan untuk kembali belajar formal untuk memenuhi tuntutan passion yang akhirnya saya temukan setelah menggelandang kesana kemari. Lahir di Maninjau ( cek gmaps sanah), TK ampe tamat SMA di Jambi, kuliah di Padang, magang di Suliki-Payakumbuh, kerja nguli di Duri, lalu terakhir balik ke Padang lagi untuk menjajal jadi pengajar sambil masih nggrecokin pasien biar nggak lupa dan tetap punya rasa (elah). Dan sekarang saat ngetik tulisan ini saya lagi di Bandung, menghabiskan beberapa jam yang tersisa sebelum naik travel ke Jakarta. Yep, dua tahun ke depan saya akan guling-guling di ibukota, jadi anak sekolah kembali.



Jambi punya peranan penting dalam hidup. Practically grown up there and learnt much in young ages. Di kota ini yang punya teman-teman sekolahan lengkap dengan drama penting gak pentingnya. Alhamdulillah masih kontak sampai sekarang, dan saya masih punya niat untuk main kembali kesana.

Padang itu kota tercinta kujaga dan kubela, khas slogannya. Kuliah 6 tahun disini dan bener-bener belajar jadi orang dewasa (meskipun kayaknya masih child inside). Nggak ada yang bisa menggantikan Padang, apalagi untuk kulinernya. Ini yang sangat berat untuk ditinggalkan (perut aja perut woy), selain ninggalin Mamah sendirian di rumah.

Lalu ngapain liburan ke Bandung ?
Nah lucu ya, ke Bandung pertama kali itu tahun 2015. The I fell in love with this city. Meskipun macet juga, riweuh juga, tapi yaaaaaa, hahahaha, suka aja. Pohonnya banyak. Dan liburan sebelum kuliah ini mesti banget balik ke Bandung, ditambah si bocah lagi PL disini. Belum lagi rombongan orang-orang yang mesti dikunjungi. Semesta berkonspirasi, dan ke Bandunglah pilihan untuk kembali.

Cliche ? Don't mind me...
Dari semua tempat-tempat tercinta, satu yang tidak berubah, yakni hobi menambah timbunan. Menemukan buku langka di tempat orang-orang macam saya doyan ngumpul tuh kayak rejeki. Bisa dilihat di foto di atas itu apa yang ditemukan. Itu di Kineruku ya, tempat cozy di Jl.Hegarmanah 52 Bandung (trimakasih GoCar) yang berurusan dengan perbukuan. Tempat lain itu ada taman bacaan Pitimoss di Jl Banda, Bandung jugak, yang nyusun buku sama komiknya lengkap banget sesuai penulis, up to date sekali. Nah ngerti kan kenapa suka Bandung ?

Jakarta gimana ?
Selama ini banyak banget yang membantu di ibukota, mulai dari temen-temen jaman kuliah yang kerja dan sekolah, ditambah geng admin, dan tentutnya grup sakaw perbukuan kelas berat. Meskipun udara Jakarta pekat polusi, tapi saya yakin saya bisa berusaha menjalani kehidupan di sini. Melodrama sih, tapi ya gimana. Kata siapa itu saya lupa yang punya quote-nya, keep moving forward.

Cemas ? Iya. Saya lemot gaptek gampang tersesat terus suka emosian dan kadang cueknya nauzubillah. Namun setelah sekian kali mengamati, setiap orang punya perang masing-masing yang dihadapi tiap hari. Saya mesti banyak-banyak terima kasih karena setidaknya hidup saya masih lebih baik dari kepedihan dan kerja keras yang terlihat tiap hari di segala macam profesi di jalanan sekitar maupun di pusat keramaian dalam denyut kehidupan harian.

Makasih untuk tim penggembira di Bandung, mulai dari adek saya yang nyediain kosannya buat saya empet-empetin, mas Rayi yang rela saya grecokin kesana kemari ditambah dengerin curhatan abege saya soal hidup, mba Dyah yang bela-belain ngajak saya nonton n makan steamboat buat pertama kali (norak lo Nik), Ebun-Cakra-Fitri yang tetap powerfull setelah kerja keras untuk ketemu dan menertawakan kebodohan jaman kuliah sambil mikirin masa depan mau ngapain, Ambu yang udah nerima saya menggelandang ga tau malu ke rumahnya makan makan lebaran, dan Reymi-my lil bro dengan isi kepala dan ide-ide ga habis-habis, contoh Gen Z yang doyan kerja keras sedari muda. 

Jakarta, ada Incil - chief senior- Forensik yang udah cariin kosan-nunjukin jalan-nunjukin tempat makan dan segala macem hingar bingar lingkungan sekitar, plus Nevi yang udah membagi keluh kesah dan pengalaman. Rencananya akan segera ketemu geng admin di ibukota dan menggerecok bersama. Ihiy.

Kata salah seorang teman kuliah dulu, life is like a math, if it's easy, it means you did it wrong. Ya baiklah ayok dijalani. Dunia nya ini. Hahaha.

P.S : Mom - Dad, thanks for trusting me this much, don't worry, I'm still your strong girl/son... ^^


Acara lepas sambutnya di sini gitu, minggu depan



"...I should like to bury something precious in every place where I've been happy and then, when I'm old and ugly and miserable, I could come back and dig it up and remember..."
- Evelyn Waugh -

No comments:

Post a Comment

The Long Conversation With You

  “The worst part of holding the memories is not the pain. It's the loneliness of it..." - Lois Lowry Hi Mas, it's been a while...