October 22, 2018

Merunut ke Akar Masalah

“...Looks? Who cares about that? It’s superficial. Outward appearance doesn’t interest me at all. Why do you think I hang around with you...?”
- The Skull -

Anthony, Holly, George, Lucy, dan Tengkorak dalam toples (Kipps masih di toko Arif-beli donat, Flo di pasar gelap-bertransaksi)


Setelah penantian setahun, akhirnya edisi terjemahan dari buku terakhir seri LOCKWOOD&CO berjudul THE EMPTY GRAVE muncul di toko buku. Sebagai penduduk baru Jabodetabek, saya bisa mendapatkan buku ini dengan lebih cepat dan demi kesetiaan saya pada si Tengkorak, saya menuntaskannya tanpa menunda.

Curhatan ini mengandung spoiler buku sebelumnya. Kalau tak suka, silakan menyingkir. Terima kasih.


Di buku sebelumnya, THE CREEPING SHADOW (Bayangan Mengendap), kita dibawa dalam kebenaran mengejutkan yang dilontarkan dalam kalimat siyal si tengkorak tentang mendiang Marissa Fittes yang tersohor dalam urusan perhantuan di Inggris. Hal ini memicu Lockwood dkk untuk menyelidiki konspirasi ini dan memastikan makam Marissa benar-benar berisi yang punya makam. Riset George menuntun geng ini turun ke dalam kegelapan makam dan dibuat terkedjoet karena apa yang mereka temukan sangat di luar harapan.

THE EMPTY GRAVE (Makam Tanpa Penghuni) adalah konklusi akhir dari kisah wabah hantu di Inggris yang telah berlangsung selama lebih dari limapuluh tahun. Om Stroud mengurai rentetan misteri, alasan, kebenaran, spekulasi, yang disajikan dalam horor berbalut humor yang membuat merinding sekaligus geli dan sebal. Selipan manis juga hadir tipis-tipis dalam kisahnya dan menjadikan buku lawak ini agak sulit ditutup.

THE EMPTY GRAVE menyodorkan sisi berbeda dari masing-masing tokoh yang terlibat di dalamnya. Anthony Lockwood dan kepedihannya. George Cubbins dan kebrilianannya. Holly Munro yang tegas dan rapih. Quill Kipps yang bertekad baja. Lucy Carlyle yang tangguh namun rapuh. Dan jelas, si Tengkorak yang punya kecerdasan verbal mumpuni namun memiliki ketakutan tersendiri (udah tengkorak tapi masih aja takut). Kemunculan kejutan dari dedengkot masalah ini juga menjadi menarik sekaligus miris. Segitunya gitu ya.

Seri LOCKWOOD &CO adalah seri yang menyuguhkan kesegaran berbeda dalam kisah fantasi supranatural yang tidak umum. Om Stroud berhasil mengaduk emosi pembaca, mulai dari merinding disko sampai pengen sedia garam dan serbuk besi, sebel gemes kezel, guratan kepedihan, namun tidak melupakan elemen kebahagiaan yang diwakili dalam cemilan-cemilan enak dan kasih sayang berlimpah antar tokoh-tokoh protagonisnya.

Edisi terjemahan oleh Gramedia Pustaka Utama

Jadi apa akar masalah dalam urusan wabah hantu ini ?

Ketakutan akan kematian, keinginan untuk hidup abadi. Intinya demikian. Namun, betapa sedihnya. Kita tidak akan hidup selamanya, hanya soal waktu. Jadi lebih baik berguna selama hidup, daripada hidup selamanya namun tiada gunanya (cieehh, belajar bijak dari si Tengkorak). Om Stroud terbukti mampu menyodorkan pesan ini dalam bentuk hiburan yang menyenangkan. Terima kasih ya om sudah menghadirkan mereka dalam kisah seru ini.

Bakal ketemu si Tengkorak lagi nggak ?
Naaaaah, masih ada yang tersisa dari kisah ini. Ruang spekulasi masih terbuka. Tentunya bukan tidak mungkin geng ini punya kisah baru atau ada liputan khusus untuk idola saya ini. Sungguh tahun-tahun membaca kisah yang menyenangkan. Edisi terjemahan buku terakhir juga minim typo, sehingga lebih enak untuk dinikmati (trimakasih mba Poppy D Chusfani n mba Primadona Angela).

Pesan akhir: sudah makan donat dan minum teh kah hari ini ?


“...To die will be an awfully big adventure...”
- JM Barrie -

No comments:

Post a Comment

The Long Conversation With You

  “The worst part of holding the memories is not the pain. It's the loneliness of it..." - Lois Lowry Hi Mas, it's been a while...