October 5, 2019

Pathological Laughing

"...I used to think that my life was a tragedy, but now I realize...It's a comedy..."
- Arthur Fleck -

Joker (2019)
Pernah dengar kondisi medis yang namanya Pseudobulbar Affect (PBA)?

Pasien dengan PBA mengalami kerusakan pada struktur otaknya sehingga pasien ini bisa tertawa atau menangis yang tidak terkontrol serta tidak sesuai dengan kejadian pencetusnya. PBA adalah kasus langka, dapat disebabkan oleh kerusakan otak dan penyakit lain yang menyerang sistem saraf pusat kita ini. Pasien dengan PBA bisa tertawa atau menangis begitu saja, dan cenderung tidak sesuai dengan situasi yang dihadapi.

Kenapa kok tetiba sok-sok bahas PBA?

PBA ini muncul karena sang badut. Badut yang menyebut dirinya sebagai Joker.

JOKER (2019) hadir di layar lebar awal bulan Oktober ini. Film besutan Todd Phillips dan dibintangi oleh Joaquin Phoenix ini sukses mengacak-ngacak perasaan penonton. Seperti sudah diantisipasi dari beraneka teaser dan wawancara, JOKER tidak akan mematuhi timeline semesta DC baik versi film maupun komiknya. Todd membuat ini untuk Joaquin, dan saya akui, mereka berdua sangat berhasil.

Throw a man into toxic society...he'll become a joker..

Arthur Fleck, badut jalanan kota Gotham nan kumuh menjadi bulan-bulanan kenyataan keji harian dari sesama penduduk yang saling melampiaskan frustasi. Lima menit pertama film saja saya udah netesin air mata. Entah saya yang lemah mental atau gimana, tetapi JOKER menyuguhkan kegamblangan dari realitas disturbing yang tidak ditutup-tutupi.

PBA yang diderita Arthur (sepertinya memang PBA ya), membuatnya tidak mampu mengontrol ekspresi tawa dan sedih seperti orang normal. Melihat adegan ketawanya Arthur, perasaan saya nggak enak, kelihatan sekali Arthur kesakitan. Sangat kesakitan. Namun, orang-orang di sekitar tidak mengerti, dan tampaknya tidak mau mengerti, karena hidup mereka sendiri mungkin sudah penuh hal-hal yang bikin frustasi.

Kerusakan sosial politik dalam keremangan kota Gotham mencuat pekat. Dimana kekejian dijadikan bahan tontonan dan orang-orang makin tidak punya empati. Arthur muncul menjadi sosok Joker yang mewakili kaum marjinal yang selama ini diabaikan oleh kenyataan. Kesadisan film ini bikin perasaan tidak karuan. A kind of movie that you love to hate.

Jalan psikopatologi seorang Arthur Fleck ditampilkan miris dalam pengungkapan riwayat masa kecil yang tidak ada indah-indahnya. Ibunya, Penny Fleck yang sakit-sakitan juga menyimpan masa lalu kelam. Delusi, halusinasi, lapis gangguan jiwa bertebaran di film ini. Tidak mampu terselesaikan. Tidak ada konklusi. No remorse, no remedy. Arthur menuntut balas, mengambil peran utama sebagai promotor chaos dan tidak menyesal atas semua yang telah diperbuat.

In my whole life, I didn’t know if I even really existed. But I do. And people are starting to notice..

JOKER adalah film depresif yang tidak indah. Kekerasan, kekejian, ketidakadilan harian, carut marut politik, begitu multilapis sampai sesak. PBA yang tampaknya diderita Arthur berkelindan dengan spektrum gangguan jiwa lainnya. Kalau mau ngomong ideal, penanganan kasus model Arthur ini butuh pendekatan multidisplin dari psikiater, psikolog, dan neurolog. Bukan pekerjaan mudah. Nyatanya Arthur adalah bagian dari 'warga kelas rendah' yang tidak terlihat, dijadikan remah penguasa, dimanfaatkan untuk kepentingan olok-olok semata.

Put on a happy face!

JOKER berhasil membuat saya memberikan skor sempurna. Untuk kisah dan tentunya untuk akting Joaquin Phoenix yang sangat total dan captivating. Joaquin diketahui menurunkan berat badan lebih dari 25 kg untuk peran ini, sekaligus melakukan studi pada berbagai model tertawa dari pasien-pasien rumah sakit jiwa untuk mendapatkan tawa Joker yang khas ini. JOKER kali ini pedih, sakit, menyesakkan. Perbuatannya tidak bisa dibenarkan, tetapi apakah memang kita tidak ambil peran dalam pembentukan joker-joker di sekitar?

Gangguan jiwa adalah spektrum kompleks yang punya prognosis kurang menyenangkan. Penghakiman sosialnya sangat berat. Kengerian dalam jiwa manusia yang terpapar kebencian berulang-ulang bukanlah suatu kondisi yang dapat ditangani sekejap. Bukan seperti memberi parasetamol untuk pasien demam. Memberikan edukasi soal gangguan jiwa juga menjadi pekerjaan rumah yang penuh tantangan dan melewati jalan terjal. We expect them to be normal, to be okay, like most of us. But what is normal anyway? We ain't ever put ourselves in their shoes.

JOKER bukan film superhero/antihero DC yang megah. Akan tetapi, film ini dapat menjadi pilihan tontonan yang membuka mata akan kisah pedih orang yang dikalahkan keadaan. Skoringnya juga juara, atmosfir yang dibangun jadi makin sesak. Bukan tontonan senang-senang. Dan pastikan anda cukup dewasa untuk menikmati film ini. Tolong ingatkan orang-orang untuk tidak mengajak anak di bawah umur apalagi bayi buat nonton, ini bukan seru-seru ala franchise tetangga. Tidak perlu juga membandingkan dengan Joker-Joker sebelumnya. They have their own stories.

Take care of yourself and your love ones, mentally too. Tidak semua tawa berarti bahagia kan. Jangan lupa peluk diri sendiri, kalau perlu nangis, nangis aja, tidak mesti juga terlihat selalu senang. 





Tidak menyesal nonton film ini. Film terbaik untuk 2019. 


"...Because humans are complicated beasts. How can a queen be both a good witch and a bad witch? How can a prince be a murderer and a saviour? How can an apothecary be evil-tempered but right-thinking? How can a parson be wrong-thinking but good-hearted? How can invisible men make themselves more lonely by being seen?
The answer is that it does not matter what you think, because your mind will contradict itself a hundred times each day. You wanted her to go at the same time you were desperate for me to save her. Your mind will believe comforting lies while also knowing the painful truths that make those lies necessary. And your mind will punish you for believing both...
- Patrick Ness -



No comments:

Post a Comment