March 14, 2021

Dansa Politik di Elfhame (The Folk of the Air Trilogy - Holly Black)

"...Power is much easier to acquire than it is to hold on to..."

- Lord Madoc -

 


 

Hari-hari begini (nyaris setahun belakangan), ketika dihadapkan dengan tanggal merah, kita dianjurkan untuk tidak kemana-mana atau latah liburan jalan-jalan. Membosankan memang. Namun apa mau dikata, pandemi masih jauh dari usai dan saya haqqul yaqin kalau saya sakit, saya akan jadi semakin tidak berguna. Namun, saya punya alat untuk pindah semesta dengan cepat tanpa harus beranjak dari kasur tercinta. Nama alatnya: buku.

Jadi kemana saya kali ini?

Seperti halnya teori semesta paralel yang hits itu, kali ini saya diajak pindah ke negeri dongeng penuh peri dan makhluk magis bernama Elfhame dalam trilogi anyar buah karya Holly Black berjudul THE FOLK OF THE AIR. Saya sudah cukup familier dengan tulisan Black sejak lama, saya suka sekali seri middle grade THE SPIDERWICK CHRONICLES dan saya juga baru menamatkan novelnya yang lain tahun lalu, berjudul THE DARKEST PART OF THE FOREST. Menariknya, Black tampaknya melakukan semacam ekspansi dunia magis fairytale ini dalam trilogi yang sepertinya memperoleh banyak respon positif.

Terdiri dari tiga buku dengan judul ciamik dan desain sampul cantik, seri ini mengusung kisah perempuan yang tercerabut dari dunia manusia biasa ke Elfhame karena urusan dendam kesumat. THE CRUEL PRINCE, buku pertama, dibuka dengan kehadiran tiba-tiba seorang entitas asing ke rumah Eve dan Justin Duarte, membunuh keduanya di depan mata ketiga anak perempuan: Vivienne serta si kembar Taryn dan Jude  Duarte. Ketiga kakak beradik ini lantas dibawa si pembunuh ke Elfhame, dibesarkan dalam perlindungan si pembunuh sendiri, yang tak lain tak bukan adalah Lord Madoc, Jenderal Utama di Elfhame.

Buku pertama

 

Kalau dibayangkan menjadi manusia biasa di dunia peri akan mudah, oh tentu jauh panggang dari api. Melalui penuturan Jude, tokoh utama kita, keberingasan Elfhame dan segala isinya dituturkan dengan kebengisan yang tidak ditahan-tahan. Manusia biasa cuma punya satu keuntungan, yakni bisa berbohong. Kemampuan berbohong tidak dimiliki oleh segala makhluk magis di Elfhame, tetapi mereka dapat memutar kata selicin mungkin untuk memperoleh apa yang dikehendaki. Oleh karena itu, selalu diingatkan bahwa ada harga dari setiap sihir. Harga yang kadang-kadang terlalu pedih untuk dibayangkan.

Yang paling menarik dari buku ini (dan dari keseluruhan trilogi) adalah power play. Elfhame diambang pergantian kekuasaan. King Eldred, raja agung dengan tiga putri dan tiga putra harus memilih satu penerusnya. Nah, di sinilah upaya perebutan kekuasaan ini menjadi sangat menarik. Jude memainkan peran dengan licik dan licin untuk mengamankan tahta bagi salah satu penerus. Namun, segala dansa politik ini berujung pada pertumpahan darah penerus tahta secara dramatis. Tak disangka, penerus yang tidak diharapkan justru terpilin menjadi penerus selanjutnya. Dalam buku kedua, THE WICKED KING, Jude sudah level up gila-gilaan menjadi penasehat raja dan mesti memutar otak untuk menjalankan pemerintahan yang penuh pengkhianatan sambil melawan hasrat pribadi.

Buku kedua

Black menuliskan kisah ini dalam bahasa yang mudah dicerna dengan alur yang cepat. Di buku kedua, saya merasa saya tidak bisa mempercayai siapapun. Tidak juga tokoh utama. Karena seperti yang telah disebutkan di awal, power play dalam urusan tahta ini menarik sekali. Dan Jude, lihai berbohong, semacam suatu keuntungan sekaligus petaka yang membuatnya jatuh bangun berkali-kali. Di satu sisi, meskipun Prince Cardan memesona khalayak, tidak bisa dipungkiri sisi kelamnya yang tidak menjadikannya sebagai pangeran standar biasa dalam kisah dongeng.

Dalam buku penutup, THE QUEEN OF NOTHING, mengakhiri kisah kekuasaan ini dengan yah boleh dibilang 'manis'. Black sepertinya adalah penulis yang cukup baik hati dan menyayangi karakter yang ditulisnya. Saya yang sudah biasa dengan mental dianiaya oleh penulis favorit lain, cukup terkejut dan lega dengan penghiburan ini. Meskipun jalurnya penuh darah dan pengkhianatan, tapi akhir kisahnya tidak memprovokasi pembaca untuk lempar kulkas dan banting pintu.

Buku ketiga

Secara keseluruhan, seri THE FOLK OF THE AIR ini membawa penyegaran bagi pecandu kisah dongeng yang dibumbui kegelapan politik, perebutan kekuasaan, sihir, dan tentunya romansa. Kisah merah jambu-nya hadir dalam situasi yang tidak bikin eneg, tidak memaksa, namun tetap penting dalam keseluruhan cerita. Black menuliskan triloginya dengan narasi yang bikin susah ditutup sampai kelar dan pengen cepat ke halaman selanjutnya. 

Herannya, saya tidak mengidolakan siapapun seperti biasanya dalam pengalaman membaca seri. Poin paling menarik dalam kisah ini yang membuat saya cukup ekspres menamatkan ketiga bukunya adalah dansa politiknya, yang seolah menjadikan sihir tidak terlalu memegang peranan dibandingkan manuver kecerdasan dan kelicikan. Ini menarik. Kita diajak melihat kuasa lisan terhadap perputaran tahta. Bahkan di negeri penuh makhluk magis yang powerful macam Elfhame ini.

Recommended?

Oh tentu saja. Untuk pembaca dewasa muda yang ingin melihat dongeng dalam situasi berbeda, hasrat gelap manusia dan makhluk, serta butuh hiburan menarik. Melipirlah ke Elfhame. 

Sebagai catatan, bagi pembaca yang tidak terlalu kenal dengan makhluk-makhluk yang umum muncul di kisah dongeng seperti peri, goblin, pixie, putri duyung, redcap, penyihir, dan segala macam, mungkin butuh usaha sedikit untuk menyesuaikan diri. Black tidak terlalu deskriptif terhadap jenis-jenis makhluk yang dihadirkannya di Elfhame. Black mengajak kita masuk dengan cepat dan penuh paksaan meyakinkan, tersesat, lalu berpartisipasi melihat semua keributan ini. Tersihir dengan efektif.


"...Nice things don’t happen in storybooks....Or when they do happen, something bad happens next. Because otherwise the story would be boring, and no one would read it..."

- Holly Black -



No comments:

Post a Comment

The Long Conversation With You

  “The worst part of holding the memories is not the pain. It's the loneliness of it..." - Lois Lowry Hi Mas, it's been a while...