September 8, 2021

Darah Ribet ( Cormoran Strike #5 Troubled Blood - Robert Galbraith)

 “...Family not only need to consist of merely those whom we share blood, but also for those whom we'd give blood...”

- Charles Dickens -


Image courtesy: Pininterest

Tahun 2021 masih babak belur seperti pendahulunya, meskipun toleransi dan kekebalan sudah mulai lebih baik di bulan kesembilan. Di tengah beraneka gejolak, saya sudah nyaris lupa rasanya menamatkan buku secara ngebut tapi berkesan. Dan saya akhirnya menulis lagi setelah absen sekian bulan. Buku apa sih memangnya?

TROUBLED BLOOD (CORMORAN STRIKE#5) diterjemahkan dengan judul KECAMUK DARAH di Indonesia, nyaris setahun jaraknya dari rilis edisi bahasa Inggris di September 2020 lalu. Saya adalah fans Cormoran Strike, si detektif swasta problematik yang otaknya sungguh menarik. Dua tahun lalu sempat heboh dengan insiden di buku keempatnya (LETHAL WHITE) yang memang bikin urusan skandal kerajaan jadi terlihat tak sekedar gosip selebritas.

July 27, 2021

Toko Sulap ( Into the Magic Shop - James R Doty)

 "...on days I hate being myself, days I want to disappear forever...let's make a door in your heart... open the door and this place will await...It's okay to believe, the Magic Shop will comfort you..."

- BTS -


Image courtesy: dreamtime.com

Saya tau, bukan saya sendiri yang mulai tidak waras di kondisi pandemi tak berkesudahan ini. Namun, jika mau sedikit menilik segala kehilangan yang telah saya jalani sebagai individu, babak belur secara mental tampaknya mewarnai kehidupan sepanjang 2020 hingga paruh tengah 2021. Untungnya, saya masih memiliki banyak hal yang bisa saya syukuri, termasuk hobi membaca ini.

Saya sudah sering menyatakan bahwa saya bukan fans buku-buku self help yang hits beberapa tahun terakhir. Saya dari dulu sudah mencoba Chicken Soup, bukunya Robin Sharma, The Secret, bukunya Haemin Sunim, dan entah apa lagi. Dengan tidak mengurangi rasa hormat pada penulis-penulis kawakan yang menjajakan upaya menolong diri sendiri ini, saya tetap tidak klik. Entah saya yang terlalu memandang sinis pada dunia, hatinya batu, atau memang simpelnya bukan cangkir selera saya.

June 29, 2021

Bokanovskified (Brave New World - Aldous Huxley)

 “...But I don't want comfort. I want God, I want poetry, I want real danger, I want freedom, I want goodness. I want sin...”

- the Savage -


Image courtesy: pinterest

Beberapa tahun lalu, saya sempat memiliki edisi terjemahan dari sebuah novel klasik fenomenal berjudul BRAVE NEW WORLD bikinan Aldous Huxley. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1932 dan menimbulkan kehebohan dikarenakan kontennya yang kontroversial. Sayangnya, saya tidak klik dengan edisi terjemahan tersebut. Saya menyerah lalu menghibahkannya.

Kemudian hampir delapan dekade setelah terbit pertama kali, saya akhirnya memperoleh edisi vintage dengan sampul unik edisi berbahasa Inggris dari novel ini. Namun, butuh upaya terseok-seok menyelesaikannya, karena saya dilanda reading slump dan memang kontennya ini agak 'berat'.

June 24, 2021

Refleksi Perempuan Rantau (Burung-Burung Rantau - YB Mangunwijaya)

 “Perempuan adalah bumi, yang menumbuhkan padi dan singkong, tetapi juga yang akhirnya memeluk jenazah-jenazah manusia yang pernah dikandungnya dan disusuinya.” 

 

Image courtesy: personal collection

Apakah saya sudah mentasbihkan diri menjadi feminis dalam beraneka curhatan perbukuan akhir-akhir ini? Oh sayangnya tidak. Saya masih meraba-raba jalur menuju humanis. Istilah yang saya rasa lebih cocok dengan kecondongan pandang diri saat ini.

Dihadiahi buku sebagai perayaan hari lahir adalah sesuatu yang sangat membahagiakan bagi saya yang udah kadung cinta dengan dunia ini sejak sudah mampu membaca. Maka, sebuah edisi BURUNG-BURUNG RANTAU karya mendiang romo YB Mangunwijaya, dikirimkan langsung dari Yogyakarta atas titah si nyonya, salah satu perempuan aneh yang entah kenapa mengenal saya.

May 31, 2021

Questioning the Lessons (21 Lessons for the 21st Century - Yuval Noah Harari)

“...We should never underestimate human stupidity. Both on the personal and on the collective level, humans are prone to engage in self-destructive activities...”

 

Image courtesy: personal collection

Butuh waktu cukup lama bagi saya untuk menuntaskan buku non fiksi anyar bikinan Yuval Noah Harari yang berjudul 21 LESSONS FOR THE 21ST CENTURY ini. Tak seperti SAPIENS dan HOMO DEUS, edisi yang saya baca ini adalah edisi berbahasa Inggris yang saya peroleh dari hasil berburu diskonan di toko buku daring langganan tahun lalu. Boleh jadi saya sedikit terlambat dari tahun rilisnya (2018) yang jelas-jelas penulisannya belum dipengaruhi hantaman disrupsi si COVID-19.

Jadi apa yang dapat ditangkap dari buku ribut ini?

May 30, 2021

Perempuan, Identitas, Kebodohan (Ronggeng Dukuh Paruk - Ahmad Tohari)

 “… kehidupan tidak maju ke depan dalam lintasan lurus, melainkan maju sambil mengayun ke kiri dan ke kanan dengan jarak yang sama jauhnya. Padahal nurani kehidupan tak pernah sekali pun bergeser dari kedudukannya di tengah. Apabila ayunan ke kanan bercorak hitam misalnya maka ayunan ke kiri dalam banyak hal adalah kebalikannya, putih...” 

- Ki Sakarya -


image courtesy: collectie tropenmuseum

Minggu lalu, dalam rangka hari kelahiran, adik saya, Jun, meminta saya memilih satu buku sebagai hadiah saat kami memberanikan diri melongok ke toko buku setempat. Tanpa basa-basi, saya memilih edisi terbaru RONGGENG DUKUH PARUK, karya Ahmad Tohari, yang versi awalnya terbit tahun 1982. Saya sudah penasaran sejak lama dengan buku ini, mengingat pada diskusi-diskusi saya di beraneka komunitas perbukuan yang sering menyebut buku ini sebagai bagian dari sastra Indonesia yang cukup bersejarah. Tidak seperti kebiasaan belanja buku saya yang didominasi novel terjemahan atau buku impor, saya kembali menikmati tulisan anak negeri.

Setelah menuntaskan bukunya beberapa menit yang lalu, saya mengerti alasan rekan-rekan perbukuan merekomendasikan buku ini di berbagai kesempatan.

May 1, 2021

Jejak Ingatan (The Invisible Life of Addie LaRue - VE Schwab)

 “...Because time is cruel to all, and crueler still to artists. Because visions weakens, and voices wither, and talent fades.... Because happiness is brief, and history is lasting, and in the end... everyone wants to be remembered...”

- Adeline LaRue -

Image courtesy: Julia Lloyd

Kita hidup dalam ingatan orang lain dalam berbagai kisah dan citra. Dalam beberapa hal, kita senang sekali bisa diingat dan menjadi penting. Namun, ada kalanya muncul keinginan absurd untuk memulai segalanya dari awal, di waktu dan tempat baru tanpa ada satu orang pun yang kenal. Menarik? Bisa jadi. Namun, apabila diberi kesempatan untuk tidak terdeteksi dalam jejak ingatan siapapun, bebas kesana kemari bahkan tak memiliki ikatan waktu, apakah itu akan jadi kutukan atau anugerah?

THE INVISIBLE LIFE OF ADDIE LARUE adalah novel standalone terkini buah karya VE Schwab, si mbak rock n roll yang belakangan masuk ke dalam daftar saya. Novel setebal 400an halaman lebih ini mengisahkan petualangan seorang wanita bernama Adeline (Addie) LaRue yang hidup sangat lama (3 abad) dari Villon, Prancis hingga New York, US. Hidup yang tidak diingat sama sekali oleh siapa pun kecuali oleh si pemberi perjanjian. Dewa yang menjawab dalam kegelapan.

The Long Conversation With You

  “The worst part of holding the memories is not the pain. It's the loneliness of it..." - Lois Lowry Hi Mas, it's been a while...